JAWA TENGAH, 23 September 2026 – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) dan grup, Subholding Gas Pertamina, melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) Tanam Pantau, sejak 2024 sampai saat ini telah menanam lebih dari 269.000 bibit mangrove di sejumlah wilayah pesisir Pantai Utara Jawa, meliputi Semarang, Kendal, Batang, Indramayu, Gresik, dan Bekasi . Upaya ini dilakukan untuk memperkuat ekosistem sekaligus meningkatkan ketahanan kawasan pesisir dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Penguatan ketahanan kawasan pesisir menjadi bagian dari upaya PGN grup merespons tantangan perubahan lingkungan. Penanaman mangrove dilakukan untuk menjaga fungsi ekologis pesisir sekaligus mendukung kemampuan kawasan dan masyarakat dalam menghadapi perubahan lingkungan. Pendekatan serupa juga diterapkan melalui inovasi di sektor pangan, salah satunya pengembangan Padi Biosalin bersama BRIN dan pemerintah daerah yang saat ini telah mencapai luasan 550 Hektare dari awal dimulai program di luasan 5 hektare pada akhir 2024. Dari lahan tidak produktif menjadi lahan yang berhasil memanen 5 – 7 Ton gabah kering per hektare per masa tanam.
Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Rehabilitasi dan Konservasi Sumber Daya Alam, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah, Pujiharini, mengatakan penanaman mangrove berperan dalam rehabilitasi ekosistem sekaligus memperkuat ketahanan kawasan pesisir menghadapi perubahan iklim.
“Kawasan pesisir memiliki tantangan yang semakin besar akibat perubahan lingkungan dan perubahan iklim. Upaya tersebut (penanaman mangrove) perlu dilakukan secara berkelanjutan dan disinergikan dengan pengelolaan kawasan Hulu sampai Hilir khususnya di Daerah Aliran Sungai agar manfaat ekologis mangrove dapat dirasakan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Kepala DLH Kabupaten Batang, Rusmanto, menyebut pengelolaan dan pemulihan lingkungan pesisir membutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga riset, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diperlukan agar penanaman mangrove dapat terintegrasi dengan pengelolaan kawasan pesisir di tingkat daerah.
“Pengelolaan kawasan pesisir tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri. Perlu kolaborasi dengan berbagai pihak agar kawasan pesisir tetap terjaga dan memberikan manfaat bagi masyarakat secara berkelanjutan. Sosialisasi dan pelibatan masyarakat pesisir juga pemahaman akan pentingnya tembok alami abrasi laut, adalah mitigasi awal agar mereka disadarkan akan bahaya hilangnya lahan mata pencaharian ke depan, jika penanaman mangrove tidak dilaksanakan,” tuturnya.
Sementara itu, Division Head CSR PGN, Krisdyan Widagdo Adhi, mengatakan Tanam Pantau dikembangkan dengan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada penanaman mangrove, tetapi juga menghubungkan aspek lingkungan dengan ketahanan pangan, mitigasi bencana, teknologi tepat guna, dan pemberdayaan masyarakat.
“Bagi PGN, keberlanjutan bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi bagaimana membangun ekosistem yang terus memberikan manfaat,” kata Krisdyan.
Pendekatan tersebut diwujudkan antara lain melalui pengembangan minapadi salin untuk mendukung ketahanan pangan, mitigasi bencana di wilayah pesisir Pantai Utara Jawa, serta penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, rehabilitasi mangrove menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat ketahanan kawasan pesisir.
Krisdyan mengatakan keberlanjutan Tanam Pantau membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah daerah mendukung arah pembangunan dan pengelolaan lingkungan, BRIN melalui riset dan inovasi, sementara masyarakat berperan dalam menjaga serta memanfaatkan ekosistem secara berkelanjutan.
“Ke depan, kami ingin memastikan apa yang ditanam hari ini dapat tumbuh menjadi ekosistem yang memberikan manfaat nyata. Keberlanjutan program membutuhkan kerja bersama, pemantauan, edukasi, serta keterlibatan masyarakat secara konsisten,” pungkasnya.
(Red)
