BANDUNG (HSB) – 10 November 2022, Ditjen Bina Pembangunan Daerah melalui Subdit pertanian dan Pangan menggelar Rapat Evaluasi Pengelolaan Risiko Banjir Program Flood Management in Selected River Basins (FMSRB). Dalam Forum Ini, Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Teguh Setiabudi menegaskan Pentingnya Kisah Keberhasilan (Succes Story) pada Program FMSRB sebagai Lesson Learned di Daerah lain.
“Pentingnya kisah keberhasilan program (success story) sebagai lesson learned yang bukan hanya berisi pencapaian bersifat fisik, namun juga keberhasilan non-fisik, sehingga dapat menjadi contoh atau model pengelolaan risiko banjir yang dapat direplikasikan ke daerah lainnya.” Ujar Teguh dalam Penutupan Rapat Evaluasi FMSRB di Fox Harris Hotel Bandung, Kamis (10/11).
Disamping itu, disampaikan beberapa hal penting dalam akhir Pelaksanaan Program FMSRB diantaranya memaksimalkan pelaksanaan kegiatan sesuai AWP pada sisa waktu di tahun 2022; Integrasi Rencana Pengelolaan Risiko Banjir Daerah (RPRBD) kedalam dokumen perencanaan pembangunan daerah agar dapat dilaksanakan dan dibiayai melalui APBD dalam rangka menjamin keberlanjutan pasca program FMSRB; menyusun laporan pelaksanaan program FMSRB secara komprehensif; serta menyelesaikan proses serah terima aset Program FMSRB.
Selanjutnya, dalam akhir penutupannya, Teguh Mengatakan Sebanyak 140 Kelompok Masyarakat Siaga Bencana (KMSB) yang dibentuk melalui Program FMSRB dengan kegiatan dan Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM) nya sudah diintegrasikan dengan rencana OPD terkait.
“Hal ini merupakan sesuatu yang positif karena menunjukkan mulai berjalannya partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah dan perlu dijaga keberlanjutannya.” Ujar Teguh.
Rapat Evaluasi ini Dilsaksanakan secara Hybrid dan diikuti oleh Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian PUPR, Kementerian Keuangan, serta daerah Pengampu Program FMSRB yaitu Provinsi Maluku, Kab Serang, Kab Lebak, Kab Pandeglang dan Kota Ambon.
Redaksi
