Bogor — Pagi di SDN Jogjogan 01 selalu dimulai dengan langkah-langkah kecil yang penuh semangat. Anak-anak datang dengan seragam rapi, menyimpan harapan sederhana untuk menjalani hari di sekolah.
Di antara mereka, Daniel, siswa kelas 5 berusia 11 tahun, sudah terbiasa hadir lebih awal. Baginya, datang pagi bukan sekadar rutinitas, tetapi bagian dari kesiapan menjalani hari.
“Aku biasa sampai sekolah jam setengah tujuh, biar nggak telat,” tuturnya.
Namun, ada satu hal lain yang diam-diam ia nantikan setiap hari, momen makan bersama dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dari sekian banyak menu yang pernah hadir di atas mejanya, satu yang selalu berhasil mencuri perhatiannya: ayam chicken katsu.
“Kalau lagi ada ayam chicken katsu, aku paling senang,” katanya, dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.
Baginya, menu itu bukan sekadar makanan. Ada rasa renyah dan lembut yang sederhana, tetapi cukup untuk membuat harinya terasa lebih menyenangkan.
Di waktu istirahat, Daniel duduk bersama teman-temannya. Mereka makan, bercerita, dan tertawa, menciptakan momen kebersamaan yang mungkin terlihat biasa, namun bermakna.
Seiring waktu, MBG bukan lagi sekadar program di sekolah. Ia telah menjadi bagian dari keseharian, hadir sebagai penguat energi sekaligus penyemangat.
Para guru pun mulai melihat perubahan. Anak-anak tampak lebih fokus, lebih aktif, dan tidak lagi mudah kelelahan saat pelajaran berlangsung hingga siang.
“Enak, terus bikin kenyang juga. Jadi lebih semangat belajar,” ujar Daniel.
Bagi Daniel, semua ini terasa sederhana. Namun di balik setiap piring yang ia habiskan, tersimpan harapan yang tulus.
“Aku berharap MBG selalu ada.”
Sebuah kalimat singkat, tetapi cukup untuk menggambarkan bahwa di balik program ini, ada semangat kecil yang terus tumbuh, pelan, namun pasti, di hati anak-anak yang sedang menyiapkan masa depan mereka.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional
(Red)
