RSUD Bakti Pajajaran Terapkan Antrean Dinamis, Waktu Tunggu Pasien Hanya 1 Jam

Bogor | HSB – RSUD Bakti Pajajaran (sebelumnya RSUD Cibinong) melangkah lebih jauh dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan. Bukan hanya pada sisi medis, rumah sakit rujukan regional ini kini juga berfokus memangkas waktu tunggu pasien rawat jalan, dengan target maksimal satu jam.
Setiap hari, ribuan pasien baik peserta BPJS maupun umum memadati rumah sakit ini. Antrean panjang kerap menjadi keluhan klasik. Banyak pasien terpaksa meluangkan setengah hari hanya untuk menunggu giliran, meski sudah datang sesuai jadwal. Masalah utama bukan sekadar jumlah pasien, melainkan sistem antrean lama yang masih statis, sehingga tidak bisa menyesuaikan kondisi nyata: orang datang bersamaan membuat ruang tunggu penuh, slot konsultasi bisa habis meski pasien sudah menunggu, dan jika dokter terlambat karena operasi darurat atau pasien tidak hadir tepat waktu, jadwal pun berantakan sehingga seluruh antrean ikut terdampak.
Direktur RSUD Bakti Pajajaran, dr. Yukie Meistisia A. Satoto, menegaskan komitmennya:
“Kami memahami antrean panjang sangat melelahkan bagi pasien. Karena itu, kami menyiapkan solusi antrean dinamis yang kini sudah memasuki tahap uji coba. Langkah ini bagian dari komitmen kami meningkatkan mutu layanan, dengan harapan RSUD Bakti Pajajaran dapat menjadi rumah sakit dengan waktu tunggu rawat jalan terendah di Jawa Barat.”
Solusi itu hadir lewat kerja sama dengan Chup, startup teknologi berbasis kecerdasan buatan dan cloud yang berfokus pada otomasi antrean. Sistem ini dilengkapi fitur auto reschedule. Jika terjadi perubahan jadwal, antrean langsung disesuaikan secara otomatis, dan pasien menerima notifikasi real-time melalui WhatsApp—tanpa perlu mengunduh aplikasi tambahan.
Ahmad Farhan, CEO Chup, menjelaskan:
“Pasien tidak selalu keberatan menunggu. Yang mereka tidak suka adalah tidak tahu sampai kapan harus menunggu. Dengan otomasi antrean ini, pasien selalu mendapat informasi terbaru secara real-time.”
Lebih jauh ia menambahkan, “Teknologi Chup dirancang untuk membantu pasien sekaligus rumah sakit. Pasien mendapat kepastian waktu, sementara tenaga medis terbebas dari beban administrasi berlebih sehingga bisa lebih fokus melayani.”
Bagi masyarakat Kabupaten Bogor, kehadiran sistem ini menjadi kabar baik. Tidak perlu lagi membuang waktu berjam-jam hanya untuk menunggu giliran. Dengan antrean yang lebih adaptif dan manusiawi, standar layanan rumah sakit pun bergerak menuju kelas modern.
Jika uji coba berjalan lancar, RSUD Bakti Pajajaran akan memperluas penerapan sistem ini ke lebih banyak poliklinik. Harapannya, antrean panjang yang selama ini menjadi keluhan utama masyarakat bisa berangsur teratasi.
(Red)











