TANGERANG – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk di kalangan pelajar. Namun, di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan, AI juga dapat disalahgunakan untuk membuat informasi palsu, menyebarkan hoaks hingga menjadi sarana penipuan digital.
Karena itu, Polres Metro Tangerang Kota memberikan pembekalan kepada para pelajar agar tidak hanya bisa menggunakan AI, tetapi juga memahami cara menggunakannya secara aman dan bertanggung jawab.
Kegiatan tersebut dikemas melalui Program Paham AI yang digelar di SMAN 7 Kota Tangerang dan SMKN 2 Kota Tangerang, Rabu (12/8/2026).
Sebanyak 146 pelajar mengikuti pelatihan tersebut. Rinciannya, 74 siswa SMAN 7 Kota Tangerang dan 72 siswa SMKN 2 Kota Tangerang.
Dalam kegiatan itu, para siswa tidak hanya diperkenalkan dengan apa itu AI. Mereka juga diajak memahami berbagai risiko yang dapat muncul dari penggunaan teknologi tersebut.
Materi yang diberikan meliputi Introduction of AI, penggunaan AI secara etis, Data Privacy & Safety AI, teknik membuat prompt, hingga pengenalan website Senopati Academy.
Plh Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol Eko Bagus Riyadi, S.H., S.I.K., M.H. mengatakan, pemahaman tentang AI penting diberikan sejak di lingkungan sekolah karena pelajar merupakan salah satu kelompok yang paling dekat dengan perkembangan teknologi digital.
“Kami ingin para pelajar tidak hanya bisa menggunakan AI, tetapi juga memahami manfaat, risiko, serta etika dalam penggunaannya. Jangan sampai teknologi yang seharusnya memberikan manfaat justru digunakan untuk menyebarkan informasi palsu atau merugikan orang lain,” kata Eko Bagus Riyadi.
Menurut Eko, kemampuan mengenali informasi yang benar dan informasi yang telah dimanipulasi menjadi hal penting di tengah derasnya arus informasi di media sosial.
Sebab, saat ini sebuah foto, video, suara, maupun tulisan dapat dibuat atau dimanipulasi menggunakan teknologi AI sehingga terlihat seolah-olah benar.
“Pelajar harus memiliki kemampuan untuk berhenti sejenak, memeriksa dan melakukan verifikasi sebelum mempercayai maupun menyebarkan sebuah informasi. Ini bagian dari upaya kita membangun budaya literasi digital yang sehat,” ujarnya.
Dalam pelatihan tersebut, siswa diberikan contoh dan pemahaman mengenai bagaimana membedakan konten yang dibuat menggunakan AI dengan konten asli. Mereka juga diajarkan untuk tidak langsung percaya terhadap informasi yang belum jelas sumber maupun kebenarannya.
Tidak hanya soal hoaks, para pelajar juga diberikan pemahaman mengenai keamanan data pribadi.
Hal ini dinilai penting karena kejahatan digital kerap diawali dari hal sederhana, seperti korban membuka tautan mencurigakan, membalas pesan dari nomor tidak dikenal, atau memberikan informasi pribadi kepada pihak yang tidak bertanggung jawab.
Melalui materi Data Privacy & Safety AI, siswa diajak lebih berhati-hati dalam menggunakan berbagai platform digital, termasuk ketika menerima pesan atau chat yang berisi tautan maupun permintaan data pribadi.
“Jangan sembarangan memberikan data pribadi, kode OTP, password, maupun informasi perbankan kepada siapa pun. Pesan yang terlihat sederhana bisa saja menjadi pintu masuk bagi pelaku kejahatan untuk mengambil data atau mengakses akun korban,” jelas Eko.
Setelah mengikuti pelatihan, para siswa diharapkan mampu menerapkan pengetahuan tersebut dalam aktivitas sehari-hari, terutama ketika menggunakan media sosial dan berbagai layanan digital.
Mereka tidak hanya diharapkan mampu mengenali apakah sebuah informasi dibuat menggunakan AI atau tidak, tetapi juga mampu melakukan verifikasi untuk memastikan informasi tersebut benar sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Selain itu, siswa diharapkan semakin peka terhadap spam chat, tautan mencurigakan, serta berbagai modus yang dapat menyebabkan kebocoran data pribadi hingga kerugian pada layanan perbankan digital.
“Teknologi akan terus berkembang. Karena itu, kemampuan menggunakannya juga harus diimbangi dengan kemampuan untuk menyaring informasi dan menjaga keamanan diri. Kami berharap para pelajar bisa menjadi pengguna AI yang cerdas, kritis dan bertanggung jawab,” pungkas Eko.
(Red)

