STN Siap Menjadi Jembatan Negara dan Petani dalam Pembangunan Pertanian

JAKARTA – Pimpinan Pusat Serikat Tani Nelayan (PP STN) mengunjungi Direktorat Jendral Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Senin (22/06). Kunjungan tersebut dalam rangka diskusi serta tukar pikiran seputar permasalahan hilirisasi pertanian di Indonesia. Pertemuan tersebut dipimpin oleh Dr. Ir. Dyah Susilokarti, M.P yang saat ini menjabat sebagai Direktur Aneka Kacang dan Umbi beserta tiga orang pejabat direktorat lainnya.

Sementara itu, hadir atas nama PP STN saat itu diantaranya, Ketua Umum PP STN Ahmad Rifa’I, S.H., Deputi Bidang Politik PP STN Samsudin Saman, dan Deputi Bidang Tani PP STN Rinaldi, S.Sos., S.H.

Menurut Ketua Umum PP STN, Ahmad Rifa’i, pertemuan yang berlangsung selama satu jam setengah tersebut awalnya membahas persoalan produksi pertanian saat ini kemudian menajam ke pembahasan Brigade Pangan.

β€œYa, perbincangan yang awalnya seputar praktek-praktek lapangan yang telah kami kerjakan di beberapa wilayah konflik agrarian saat ini, kami eksplorasi lebih jauh, hingga akhirnya kami Panjang lebar mendiskusikan soal Brigade Pangan. Walau kami bersama-sama bu Diah mengakui soal Brigade Pangan ini berada di bawah nauangan direktorat lainnya, namun karena bu Diah kami kenal juga merupakan salah satu Koordinator Wilayah (Korwil) Brigade Pangan, tepatnya di daerah Nusa Tenggara Barat, maka perdiskusian soal isu dan saran penting untuk Brigade Pangan pun mengalir,” jelasnya.

Ditambahkan Fay (panggilan Ahmad Rifa’i), Deputi Bidang Tani secara luas diberikan kesempatan oleh Doktor Dyah untuk memaparkan pandangan tentang persoalan dan isu-isu programatik pertanian saat ini.

β€œMaka pada pemaparan tersebut, Kawan Rinaldi selaku Deputi Bidang Tani juga menyampaikan beberapa masukan untuk Brigade Pangan, dengan harapan tentunya Doktor Dyah menyambungkan ini ke Direktorat yang membidangi soal Brigade Pangan ini,” imbuhnya.

Dalam pemaparannya, Rinaldi selaku Deputi Bidang Tani PP STN menyampaikan bahwa, program Brigade Pangan yang Tengah dijalankan oleh Kementerian Pertanian saat ini merupakan salah satu jawaban terhadap Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang menyasar anak-anak muda untuk menyambungkan Kembali mata rantai yang telah terputus di sektor pertanian.

β€œProblem petani kita saat ini masih seputar akses lahan, teknologi murah dan modern serta kesadaran untuk membangun konsep tertanian kolektif, yang sejatinya merupakan akar kebiasaan masyarakat Indonesia. Dan kami melihat, Brigade Pangan sangat mendorong pertanian kolektif tersebut, ditambah lagi dengan distribusi alat pertanian modern sebagai penegasan bahwa program ini tidak terputus pada jaminan akses lahan saja, melainkan juga teknologinya, modal dan hingga distribusi hasil panennya. Dari itulah, STN menawarkan diri sebagai Social Agribusiness Operator (SAO), dan STN tidak memposisikan diri sebagai “penerima bantuan” yang pasif, melainkan sebagai integrator rantai nilai pangan hulu-hilir. Kehadiran SAO bertujuan memastikan setiap kebijakan pembangunan pertanian dieksekusi dengan standar operasional yang ketat demi mencapai efektivitas kebijakan nasional secara terukur,” terangnya.

Sementara itu pada pertemuan tersebut untuk persoalan Brigade Pangan, Doktor Dyah menyampaikan bahwa, program dimaksud berada dalam pengampuan Direktorat yang berbeda. Namun demikian, usulan dan perdiskusian tersebut akan disampaikannya.

β€œMungkin jika suatu waktu ada pertemuan dengan Brigade Pangan atau yang membahas soal-soal Brigade Pangan, STN bisa ikut bersama, sehingga dapat menyampaikan pokok-pokok pikirannya kepada khalayak ramai,” harapnya.

Untuk diketahui, usulan Serikat Tani Nelayan (STN) menjadi Social Agribusiness Operator adalah solusi inovatif untuk menjawab kebuntuan pembangunan pertanian yang selama ini bersifat top-down. Model ini menawarkan efisiensi operator profesional dengan basis kekuatan sosial masyarakat sipil.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *