Ia yang Tak Pernah Marah, Pagi Ini Marah

Jakarta | HSB – Sosok yang selalu tenang itu akhirnya marah. Bukan marah biasa, melainkan jeritan cinta kepada keadilan.

Saya penggemar hari Jumat. Entah mengapa, bagi saya, hari itu menyimpan energi kebahagiaan yang berbeda dari hari-hari lain.

Namun, Jumat pagi ini terasa lain. Baru saja menjejakkan kaki di kantor, datang perintah mendadak: saya diminta meliput kegiatan pimpinan Mahkamah Agung. Tugas ini sebetulnya menyenangkan, tapi ada yang membuatnya istimewaβ€”dan kelak tak terlupakan.

Setelah menyiapkan peralatan liputan, saya segera meluncur ke lokasi acara. Tapi, sesampainya di sana, suasana terasa janggal: sepi dan hening. Seorang petugas protokol memberi tahu bahwa acara sudah dimulai.

Sedikit panik, saya mencari pintu masuk. Pelan-pelan saya buka salah satu pintu ruang rapat. Ruangan sudah penuh. Ratusan hakim duduk rapi, mata tertuju lurus ke depan. Sang Ketua Mahkamah Agung sedang berbicara.

Saya buru-buru menutup pintu. Tak jadi masuk. Khawatir mengganggu.

Menyusuri lorong, saya mencari pintu lain. Syukurlah, saya berhasil masuk dari sisi berbeda dan menemukan kursi kosong di sudut ruangan.

Baru duduk, jantung saya berdebar. Ruangan sunyi. Tegang. Semua mata tertuju pada satu titik: Beliau, sang ketua.

Mendengar beliau bicara adalah hal biasa. Saya nyaris selalu hadir di setiap kegiatannya. Tapi pagi ini berbeda. Suaranya tinggi, tegas. Ini pertama kalinya saya melihatnya marah.

Sosok yang selama ini dikenal tenang, santun, dan ramah. Dalam banyak kesempatan, beliau kerap menyapa lebih dulu dengan senyum dan rendah hati meski ia adalah orang nomor satu di institusi ini.

Semakin lama saya menyimak, semakin jelas: kemarahan ini bukan sembarang marah. Ia lahir dari kepedulian, kekecewaan, dan kelelahan melihat luka yang terus terbuka penangkapan demi penangkapan aparat peradilan.

Saya tahu betapa beliau berjuang memulihkan kepercayaan publik. Inovasi demi inovasi ia dorong. Pembinaan dilakukan tanpa lelah. Pengawasan diperketat. Namun masih saja ada yang tergelincir.

β€œIngat mati. Kullu nafsin dzā’iqul maut. Memangnya tidak akan mati, sehingga tak takut berbuat nista?” serunya lantang.

β€œHakim memang bukan malaikat, tapi bukan berarti memilih menjadi setan!”

Ruangan kian hening. Semua tertunduk. Seperti anak-anak yang dimarahi ayahnya. Ayah yang marah karena cinta.

β€œKalau bukan karena keserakahan, lalu karena apa semua ini terjadi? Hentikan segala bentuk pelayanan transaksionalβ€”sekarang juga! Jika masih ada yang melakukannya, laporkan. Saya tidak main-main. Tidak akan saya tolerir sedikit pun. Hakim yang tak sanggup menjaga integritas, silakan mundur. Daripada menodai perjuangan ini.”

Air mata saya hampir jatuh. Tak kuat mendengar nada kecewa itu. Bukan hanya marahβ€”ada luka yang dalam di balik suaranya.

Saya terdiam. Semua terdiam. Tapi di dalam diam itu, saya tahu: banyak hati yang terguncang. Sebab di balik amarahnya, ada ketulusan. Ketegasan yang lahir bukan dari ego, tapi dari cinta. Cinta pada lembaga ini, pada aparaturnya, pada bangsa, dan pada keadilan itu sendiri.

Jumat ini hati saya penuh. Penuh hormat, haru, dan doa.

Untuknya, pemimpin yang bukan hanya layak ditaati, tapi pantas dicintai. Semoga Allah Yang Maha Pengasih selalu menjaganya, meneguhkan langkah dan komitmennya. Karena kami karena Indonesia membutuhkan pemimpin seperti beliau.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *